Menuju Golongan Pekerja Sejahtera

Twitter : @SenyumDunia

Hari buruh kembali diperingati, namun semangat untuk terus menyuarakan aspirasi buruh dan kaum pekerja harus terus berlanjut. Sebagai elemen bangsa, buruh merupakan salah satu pilar penyangga ekonomi Indonesia.

Ada beberapa PR besar untuk pemerintah tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan buruh tetapi juga untuk meratakan kesempatan kerja, mengingat Indonesia memiliki sekitar 51 % yang merupakan kelompok usia muda. Ditambah lagi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan, merupakan dua komponen penting yang membuat Indonesia menjadi negara yang layak diperhitungkan.

Seiring dengan itu, ada beberapa tantangan yang perlu ditindaklanjuti, dari mulai jumlah pengangguran yang mencapai angka 7,7 pada tahun 2011 hingga kesempatan kerja yang belum merata. Selain dari pada itu, setidaknya ada 2 masalah penting yang perlu dihadapi kaum pekerja saat ini baik dari kaum buruh maupun kaum non buruh.

Masalah pertama yang perlu ditinjau ulang adalah outsourcing atau kerja dengan sistem kontrak. Pada dasarnya sistem kontrak seperti ini sistem yang baik jika penyelenggaraannya dikawal serius oleh pemerintah terutama aplikasi UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam prakteknya di lapangan. Di dalam dunia kerja memang terjadi ada beberapa pekerjaan yang sifatnya musiman atau dapat dikerjakan dalam jangka yang singkat atau tertentu. Misalnya sebuah perusahaan memerlukan seorang karyawan sementara untuk menggantikan karyawan tetap yang sedang menjalani cuti hamil. Dalam situasi seperti ini, tentu saja seorang karyawan sementara hanya diperlukan dalam jangka waktu 3 bulan. Dari sudut pandang karyawan sendiri, terutama dari kalangan muda, ada yang merasa tidak nyaman berada di dalam suatu lingkungan kerja dalam jangka waktu yang lama. Alasannya tentunya beragam dan berbeda dari satu pribadi ke pribadi yang lain, dari alasan mencari suasana baru, hingga alasan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Jadi dapat dikatakan jika sistem outsourcing ini diaplikasikan dengan benar dan baik, sistem akan mengakomodasi baik kepentingan karyawan maupun perusahaan.

Sayangnya yang selama ini terjadi adalah, sistem ini cenderung dimanfaatkan sebagian perusahaan untuk menggonta-ganti karyawan, atau memecat karyawan dengan cara tidak memperpanjang kontrak, atau juga dengan cara memperpanjang kontrak seorang karyawan secara terus menerus tanpa memberikan batasan waktu kepada karyawan yang bersangkutan. Yang perlu juga dicatat adalah, hak karyawan berupa cuti dan kompensasi dalam hal pemberhentian kontrak sebelum masa berlaku kontrak berakhir juga sering diabaikan. Selain dari pada itu, perusahaan cenderung memilih sistim kontrak ini, untuk menghindari kewajiban membayarkan pesangon, mengingat kewajiban ini hanya berlaku bagi karyawan dengan kontrak tetap atau lazim disebut PKWTT. Jika penyalahgunaan ini dibiarkan, hal ini hanya memperpanjang ketidakpastian dan tidak menjamin masa depan seorang kaum pekerja, baik buruh maupun non buruh.

Penyebab dari fenomena ini adalah ketiadaan pengawasan melekat dari pemerintah dan ada kemungkinan hak-hak dan kewajiban karyawan/buruh yang bekerja berdasarkan sistim kontrak tidak memperoleh informasi yang memadai.

Permasalahan outsourcing ini dapat diatasi yang pertama dengan cara menerapkan pasal 59 ayat 4 UU Ketenagakerjaan secara konsisten dan terawasi di dalam praktek di lapangan. Pemerintah, dalam hal ini departemen tenaga kerja diharapkan memberikan sangsi kepada perusahaan baik perusahaan penyedia jasa layanan maupun perusahaan pengguna jasa layanan yang tidak saja mengabaikan kriteria pekerjaan yang boleh diisi karyawan kontrak tetapi juga perusahaan yang mengabaikan hak pegawai atas cuti dan kompensasi, jika karena sesuatu dan lain hal perusahaan pengguna jasa layanan melalui perusahaan penyedia jasa memberhentikan karyawan yang bersangkutan sebelum waktu berakhir. Jika perlu perusahaan pengguna jasa diwajibkan untuk memberikan alasan tertulis yang mendasari pemberhentian seorang karyawan kontrak. Dan jika memang memungkinkan perlu adanya kontrol atau inspeksi berkala dari Depnaker yang dilakukan baik di perusahaan penyedia jasa maupun perusahaan pengguna jasa untuk melihat dalam praktek di lapangan guna memastikan tidak ada pelanggaran dalam perekrutan karyawan/buruh kontrak. Misalnya dengan kriteria inspeksi apaka suatu perusahaan menggunakan jasa karyawan kontrak untuk pekerjaan pokok? Dengan adanya kontrol dan penerapan konsisten dari UU Ketenagakerjaan diharapkan sistim outsourcing ini dilaksanakan dalam koridor aturan yang tepat dan meminimalisir penyalahgunaan demi kepentingan perusahaan. Di samping itu, pemerintah juga melihat realita lain bahwa Indonesia tidak kekurangan angkatan produktif yang layak memperoleh kepastian melalui kontrak tetap, yang selanjutnya dapat diakomodasi perusahaan penyedia lapangan kerja. Tidak kalah pentingnya, perlu adanya sosialisi yang lebih gencar lagi agar karyawan/buruh mengerti apa sebenarnya hak-hak dan kewajiban mereka dan apa saja yang sebenarnya harus mereka cermati dalam sebuah kontrak sebelum mereka menandatangani kontrak tersebut agar mereka tidak korban hanya karena ketidaktahuan. Tentu, tugas depnaker melalui koordinasi dengan perusahaan penyedia jasa-lah yang harus mengusahakan dan memastikan agar sosialisi ini berjalan dengan baik.

Masalah kedua yang perlu diperhatikan dan yang sudah berkali-kali disuarakan adalah upah minimum. Salah satu alasan mengapa Indonesia dilirik begitu banyak investor asing adalah karena upah minimumnya yang tergolong rendah. Hal ini bukanlah suatu yang patut dibanggakan. Memang baik, jika Indonesia dijadikan negara tujuan investasi, tetapi suatu ironi jika peluang ini tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan buruh dan pegawai. Mungkin sebuah gagasan yang terlalu jauh jika setiap perusahaan diwajibkan untuk memberikan tempat tinggal yang layak kepada buruh/pegawai, walaupun wacana ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Paling tidak, yang harus diprioritaskan adalah peninjauan kembali upah minimum regional per propinsi dan penyesuaian dengan biaya hidup sekarang ini di mana kebutuhan sehari-hari melonjak sekitar 30% akibat wacana kenaikan BBM. Dengan cara ini, pemerintah juga tidak hanya mengupayakan kesejahteraan kaum pekerja tetapi juga turut meningkatkan daya beli masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai dan buruh, pemerintah tidak harus sendirian. Perusahaan yang memperkerjakan buruh misalnya dapat dilibatkan. Partisipasi yang dapat mereka lakukan misalnya, dengan menanggung sebagian biaya transportasi pegawai, atau dengan mengusahakan tempat tinggal yang layak. Yang tidak kalah berartinya, akan sangat baik jika perusahaan juga dapat menyediakan asuransi kesehatan dan menyediakan layanan kesehatan gratis bagi para buruh/karyawannya. Perlu dicatat, usulan ini tidak ditulis untuk meninakbobokan kaum pekerja tetapi sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan.

Dua paragraf pembuka di atas telah menyinggung angka pengangguran di Indonesia. Jika dipetakan yang menjadi pengangguran terdiri dari 20% berpendidikan tinggi 50% berpendidikan rendah sementara sisanya adalah berpendidikan menengah, setingkat SMP dan SMA. Angka ini jelas menyiratkan bahwa pengangguran masih merupakan masalah di negeri ini, walaupun harus diakui ada kecenderungan menurun dari tahun ke tahun. Data ini juga menunjukan adanya ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Hal ini juga yang menyebabkan banyak di antara pencari kerja ini yang memilih untuk pergi ke luar negeri. Sejauh ini memang kita melihat adanya upaya pemerintah untuk memacu usaha kecil sebagai pencipta lapangan kerja walaupun usaha ini belum terlihat maksimal. Seluruh rakyat Indonesia mengetahui bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam. Jika sumber daya alam ini dikelola dan diolah dengan baik, betapa banyaknya lapangan kerja yang dapat diciptakan. Seperti sudah disoroti dan digulirkan di berbagai forum, sangat memprihatinkan ketika Indonesia harus mengimpor barang-barang yang seharusnya bisa diolah, diproduksi di negara sendiri, dan diekspor dalam bentuk barang jadi. Selain itu, pemerintah juga wajib mengusahakan untuk membatasi barang impor terutama barang-barang dari Cina yang dikenal murah, hingga mematikan usaha kecil. Dengan kombinasi sumber daya alam dan sumber daya manusia-nya, Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Telah disinggung secara singkat juga, jika negara kita mulai memberikan daya tarik bagi investor asing. Momen ini hendaknya dimanfaatkan pemerintah dengan sebaik-baiknya untuk menciptakan lapangan kerja baru. Tentu saja, lagi-lagi masuknya investor asing ini perlu dibatasi dan jika perlu tidak diizinkan untuk mengelola sumber daya alam Indonesia. Dengan kata lain, pemerintah harus mengupayakan perbaikan di berbagai sektor untuk menarik investor asing, di antaranya perbaikan infrastruktur, perampingan birokrasi dan pemberantasan korupsi. Setelah ini tercapai, pemerintah bisa saja mengenakan pajak yang lebih tinggi dan dengan melanjutkan kewajiban untuk mempekerjakan orang-orang pribumi, yang sudah berjalan dengan baik. Dengan mekanisme ini, masuknya investasi tidak saja menciptakan lapangan kerja, tetapi juga akan meningkatkan pendapatan negara.

Mewujudkan aspirasi menuju buruh sejahtera memang wacana untuk sementara ini. Namun, jika wacana ini ditindaklanjuti, bukan tidak mungkin wacana ini akan menjadi kenyataan.

Comments

Memaknai Hari Kartini

Twitter : @SenyumDunia

Bersyukurlah kita, wanita Indonesia yang memiliki tokoh seberani Kartini yang telah memperjuangkan emansipasi wanita. Tanpa perjuangan seseorang seperti Kartini, kiprah wanita Indonesia di berbagai bidang seperti sekarang ini hanya akan menjadi wacana dan angan semata. Di samping Kartini, kita juga mengenal beberapa pahlawan wanita yang tidak kalah penting peranannya dalam sejarah Indonesia, sebut saja seperti Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu dan R.A Sartika.

Melihat kilas balik seperti dan dalam perkembangannya kiprah Kartini Indonesia hari ini memang kita perlu berbangga. Ada baiknya kita awali dengan mendefiniskan apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini dan dalam konteks masa kini bagaimana sebaiknya kita mendefinisikan kata emansipasi itu. Banyak di antara kita, yang mengkategorikan perjuangan Kartini sebagai persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Dalam sejarah hidup manusia, derajat laki-laki dan perempuan adalah sama di mata pencipta-Nya. Yang membedakan adalah tingkah laku dan amal ibadahnya. Ada juga yang menginterpretasikan sebagai persamaan kedudukan antara wanita dan pria. Pendapat ini perlu didudukan kepada tempatnya. Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan bentuk dan kedudukan yang berbeda. Kedudukan di sini bukan berarti secara hirarkis di mana kaum yang satu lebih tinggi dari pada kaum yang lain. Yang dimaksud kedudukan di sini adalah kedudukan masing-masing individu baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat. Jika disederhanakan, dalam sebuah keluarga seorang pria kelak akan menjadi seorang ayah dan suami, yang juga kepala keluarga sedangkan seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu dan seorang istri yang merupakan kepala rumah tangga. Jadi, dicermati lebih jauh, yang diperjuangkan Kartini adalah persamaan hak dan peranan wanita baik dalam masyarakat maupun rumah tangga.

Memang benar adanya, salah satu peranan wanita dalam salah satu fase kehidupannya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga. Tetapi bukan berarti wanita tidak mempunyai hak untuk menggapai cita-cita dan memainkan peranan lebih besar lagi. Suatu pandangan yang sempit, ketika kita masih mendudukan atau mengindentikan wanita sebagai penunggu dapur, pengurus rumah dan penunggu anak, seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan seorang wanita, kecuali memasak dan mengurus rumah tangga. Sudah saatnya kita lebih menyadari lagi jika seorang wanita juga ingin tampil berkarya, mewujudkan cita-cita dan harapan dengan berbagai macam cara. Dari mulai menggeluti hobi hingga mempunyai karir yang cemerlang.

Ketika kita mendengar kata karir dan kiprah, banyak dari kita yang mengasosiasikan kita akan berpikir wanita yang bekerja di kantor dan jika mungkin dengan kedudukan yang tinggi. Tidak selalu benar. Begitu banyak wanita Indonesia, seperti wanita di dunia lainnya yang sukses menjadi seniman, perawat, guru atau bahkan menjadi wanita pengusaha yang sukses dengan mengembangkan industri rumahan. Pada perkembangannya kita juga mencatat pernah memiliki presiden wanita, yang diharapkan bukan yang terakhir kali. Pendeknya, bukanlah sesuatu yang salah jika wanita diberikan kesempatan untuk membuktikan dan menunjukan potensi diri tanpa memperoleh persepsi miring.

Emansipasi memang sesuatu yang layak kita sukuri dan kita maknai. Namun bukan berarti adanya emansipasi ini seorang wanita melupakan peranannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sering kita mendengar adanya emansipasi ini diartikan sebagai era balas dendam atau era unjuk diri, hingga pandangan ini terlalu jauh dan dibelokkan dengan mengalihkan peranannya kepada suami atau dengan kata lain cenderung merendahkan dan lebih memilih menikah dengan karir ketimbang kebahagiaan dan kebersamaan dengan keluarga. Persepsi seperti ini jelas bukan persepsi yang baik dan bukan pula persepsi yang benar. Dalam beberapa kasus, fenomena menikah dengan karir ini juga sering menjadi salah satu pemicu perceraian yang sangat disayangkan dan disesalkan. Ketika seorang wanita memilih untuk memainkan dua peranan, selain seorang ibu juga bekerja, tidak ada salahnya jika dipertimbangkan untuk memainkan kedua peranan ini dengan sebaik-baiknya dengan dasar keseimbangan. Walau bagaimanapun secermerlang apapun karir seorang wanita, tidak bisa dipungkiri, di rumah ada anak-anak yang menanti kehadiran ibunya ada juga seorang suami yang juga menginginkan kehangatan dalam sebuah rumah. Perlu diingat, bukan suatu rahasia jika karir cemerlang seorang wanita dimungkinkan dengan adanya dukungan suami dan anak-anak. Adalah juga kebahagiaan dan kebanggaan seorang wanita melihat anak-anak tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu dan menjadi pendamping suami dalam suka dan duka. Kemampuan seorang wanita untuk menjalankan dua peranan yang berbeda sama baiknya adalah ciri wanita hebat yang layak menjadi kebanggaan keluarga.

Memang tidaklah mudah untuk memainkan kedua peranan sekaligus, namun bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin. Ada banyak cara di mana kedua peranan ini dapat dimainkan seiring dan sejalan. Pada dasarnya seorang wanita yang berkeinginan untuk bekerja atau berkiprah mempunyai dua pilihan, bekerja dari rumah, atau dari rumah atau keduanya. Begitu banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya industri rumahan, usaha konveksi, warung. Atau bisa juga dengan cara mengembangkan potensi intelektualitasnya , seperti membuka kursus bahasa di rumah, notaris penterjemah dan lain sebagainya. Keuntungan dari bekerja di rumah adalah, tidak ada waktu yang terbuang yang dihabiskan di jalan, waktu bersama keluarga juga bisa lebih maksimal. Untuk mereka yang memilih bekerja di luar rumah, menyiasatinya misalnya dengan cara memilih tempat kerja yang tidak terlalu jauh dari rumah, atau dengan sebisa mungkin menghindari lembur untuk suatu pekerjaan yang bisa dilakukan keesokan harinya. Dengan cara ini, diharapkan waktu yang tersisa dalam satu hari dapat dioptimalkan bersama keluarga.

Di dalam pengertian yang lain, emansipasi juga sering dijadikan alasan yang mengesankan betapa lemahnya seorang wanita itu. Beberapa waktu yang lalu misalnya sempat terdengar adanya usulan adanya cuti khusus menstruasi, beruntung wacana ini tidak direalisasikan. Atau aspirasi lainnya yang sifatnya memberikan kesan kalau seorang wanita yang cengeng itu layak diperhatikan, misalnya dengan menuntut persamaan gaji dengan kaum pria tanpa ingin bekerja keras. Perlu diingat, ada setiap konsekuensi yang perlu dipikul dari setiap pilihan yang diambil. Begitu juga ketika seorang wanita memutuskan untuk menjalankan dua peranan dalam kehidupannya.

Terlepas dari itu semua, realita yang masih terjadi adalah, begitu banyaknya wanita Indonesia yang belum mendapatkan kesempatan. Untuk mengenyam pendidikan yang layak misalnya, sudah menjadi rahasia umum, fasilitas pendidikan belumlah merata dan begitu banyak wanita di daerah terpencil yang belum bisa menikmati fasilitas pendidikan dengan layak. Tidak hanya itu, calon-calon Kartini masa depan harus berjuang untuk mewujudkan cita-citanya dan atau menyambung hidup, harus mengorbankan masa kanak-kanak untuk bekerja. Bercermin dari keadaan ini, sudah selayaknya mereka yang memiliki kesempatan, mensyukurinya dengan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya.

Yang perlu digarisbawahi adalah, seorang wanita diberikan karunia dan kepercayaan untuk memainkan peranan dalam kehidupan ini. Apapun peranan yang dipilih lakonilah peranan itu dengan baik. Emansipasi adalah awal perjuangan untuk mewujudkan kesamaan peran, tugas kita semua untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita Kartini.

Comments

Kenangan dari Istanbul (Jilid 4 - Habis)

Twitter : @SenyumDunia

Perjalanan ke Istanbul mendekati akhir, namun demikian kami membawa pulang sejuta kenangan indah yang tak tergambarkan dengan kata-kata. Dalam blog ini saya akan menggambarkan tempat-tempat yang memberikan kesan tersendiri.

Selat Bosphorus merupakan, selat yang tidak mungkin dipisahkan dari kota bersejarah ini. Selat ini begitu penting, karena selat ini merupakan pemisah antara Istanbul di benua Eropa dan bagian lainnya yang berada di benua Asia. Hari itu tanpa direncakan dan tanpa disadari pula, kami sedang berada tidak jauh dari jembatan Galata dan dari kejauhan kami melihat dermaga kecil tempat berlabuhnya beberapa feri penyebrangan. Dengan bermodalkan keingintahuan yang tinggi, kami akhirnya memutuskan untuk melihat jadwal dan harga untuk menaiki feri kecil untuk menikmati selat Bosphorus. Dengan membayar sekitar 12 Lira per orang saja, kami akhirnya menaiki ferri yang berangkat tepat pukul 18:00 waktu setempat.

Pemandangan selat ini sangat luar biasa, tidak hanya keindahan selat ini saja tetapi pemandangan dari dua sisi yang berbeda dan penuh sejarah. Tidak hanya itu, deretan hotel mewah dan lampu yang berwarna-warni memberikan nuansa tersendiri, dan inilah cara lain yang perlu dicoba untuk menikmati kota Istanbul. Pada awalnya kami duduk di dek atas feri yang kami tumpangi. Namun setelah berada di dek atas selama setengah jam, terpaan angin semakin kencang dan kami pindah ke dek bawah yang tertutup dan dilengkapi pemanas ruangan. Melewati malam dari feri sambil menikmati secangkir teh hangat merupakan kenangan yang tak terlupakan.

Ketika berbicara mengenai selat Bosphorus, tidak lengkap rasanya jika tidak melintasi jembatan Bosphorus, jembatan yang memisahkan antara Istanbul di benua Eropa dan yang berada di benua Asia. Dengan pemikiran inilah kami memutuskan untuk mengikuti tur keliling yang ditawarkan di sekitar kota tua. Para penjual tur merupakan staf profesional dan dilengkapi dengan tanda pengenal, dengan kata lain para wisatawan tidak akan terjebak calo. Meski demikian, diperlukan kelihaian untuk bernegosiasi karena brosur yang mereka ditawarkan dalam mata uang Euro. Diperlukan kecepatan berpikir untuk mengkonversi nilai Euro ke Lira agar tidak terjebak strategi si penjual. Setelah pura-pura tidak tertarik, kami akhirnya mendapatkan diskon sebesar 5 Euro per orang atau sekitar 10 Lira per orang. Dengan mengantongi tiket yang berlaku 24 jam ini, kami akhirnya menaiki bus tur.

Setelah beberapa menit menunggu, buspun melaju melewati bagian-bagian penting kota Istanbul, di antaranya Alun-Alun Taksim, Kawasan Alun-Alun Sirkei, berbagai museum sambil sesekali berhenti di halte yang telah ditentukan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Dengan sistim hop on hop off, para pelancong dibolehkan meninggalkan bus kapan saja dan bus akan kembali melewati halte-halte yang telah ditentukan setiap jam. Setelah lama dinanti sampai juga akhirnya kami di jembatan yang terkenal ini. Tidak ada yang istimewa dari jembatan ini kecuali warna-warni lampu di malam hari yang menghiasi jembatan ini. Selebihnya tentu saja, pemandangan selat Bosphorus yang indah. Setelah hampir berada 1 jam di dalam bus, kamipun memutuskan turun di istana musim panas kesultanan Ottoman yang berada di benua Asia. Nama istana ini adalah Beylerbeyi.

Tidak seperti saudara tuanya, istana Dolmabahe, istana ini berukuran lebih kecil. Meski lokasinya sama-sama di tepi selat Bosphorus dan persis di ambang jembatan ini, istana ini tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan. Tidak ada antrian di loket dan kami begitu santai mengingat pemandangan ini menjadi pemandangan yang tidak biasa. Seperti halnya di istana lainnya, di istana inipun, keliling istana ini juga disertai pemandu dan terjadwal. Untuk memasuki istana ini lagi-lagi pengunjung diharuskan mengenakan pembungkus plastik seperti sepatu balerina. Meski tidak besar dan lebih sederhana, bagian dalam istana ini tidak kalah indahnya dengan istana Dolmabahe. Tidak seperti istana pendahulunya, istana ini tidak dilengkapi penghangat ruangan, karena Sultan Abdulaziz (1861-1876), sultan yang bertahta kala itu hanya berada di istana ini selama beberapa minggu saja selama musim panas. Istana ini juga merupakan saksi bisu yang menjadi sejarah kelam bagi kesultanan Ottoman, mengingat istana ini merupakan istana di mana Sultan Abdulhamid menjalani masa tahanan rumah dari tahun 1912 hingga akhir khayatnya pada tahun 1918.

Selain itu, jika Harem (istana khusus wanita) dibangun terpisah dari istana utama, harem di istana ini dibangun di dalam istana yang sama. Di mana ibu suri memiliki ruangan tersendiri. Istana ini boleh dibilang merupakan satu-satunya istana yang masih berdiri megah di benua Asia.

Meninggalkan segala kemegahan di benua Asia dan kembali ke benua Eropa, saya teringat akan kunjungan kami ke suatu obyek wisata yang tak kalah uniknya. Nama obyek wisata ini adalah Basilica Cistern. Lokasinya tidak jauh dari komplek kota tua, dan kebanyakan turis mengunjungi obyek wisata ini setelah mengunjungi Hagia Sofia.

Tidak seperti ketika mengunjungi Hagia Sofia, perhatian saya tertuju kepada penjual jagung bakar dan rebus yang begitu laris manis menjual dagangannya. Melihat itu tentu saja saya langsung ingat Indonesia. Ternyata jagung bakar dan rebus juga cukup populer di Turki. Menunggu antrian di obyek wisata ini tidak terlalu lama, walaupun arus masuk agak tersendat. Selama menuruni beberapa anak tangga terpampang larangan untuk berhenti di tangga. Sepintas lalu larangan ini terbilang aneh, tetapi dikarenakan arus wisatawan yang cukup ramai disertai dengan tangga yang terkadang licin, berhenti di tangga dapat membahayakan tentu saja.

Areal bangunan ini tidaklah besar, 30 menit cukup untuk menikmati penampungan air yang terletak di bawah tanah ini yang dibangun di masa kekaisaran Byzantium. Selain terpelihara dengan baik, pilar-pilar yang menjadi tiang penyangga di bangunan ini dilengkapi lampu yang cahayanya memberikan nuansa magis dan sulit untuk menahan kamera di dalam saku, karena begitu banyak sudut-sudut dalam bangunan ini yang sangat unik dan memiliki nilai fotografi yang sangat tinggi. Pendeknya, berada di tempat ini serasa berada di negeri impian.

Selain tempat-tempat di atas, ada satu mesjid yang juga tidak terlalu populer, namun sayang untuk dilewatkan. Mesjid ini bernama masjid Sulemaniye. Letaknya berada di atas bukit dan lebih mudah dijangkau dengan taksi. Untuk menjangkau masjid ini, taksi harus melewati jalan-jalan kecil dan pintu gerbangnya pun nyaris tak terlihat. Begitu sampai di depan pintu gerbang masjid, sungguh luar biasa, kompleks masjid ini jauh lebih besar dari pada kompleks Mesjid Sultan Ahmet. Meski dibangun pada era yang sama, rancangan dalam masjid ini berbeda dari Mesjid Sultan Ahmet. Tidak hanya itu, berjalan memutari tembok mesjid ini seperti laiknya berjalan di mengelilingi suatu komplek perkotaan. Tidak hanya ukurannya yang besar, tetapi juga tembok yang mengelilingi mesjid ini kokoh bagaikan benteng.

Tidak jauh dari lokasi mesjid ini, tepatnya sekitar 20 menit berjalan kaki merupakan lokasi di mana Grand Bazaar berada. Dari mesjid ini tidak sulit sebenarnya untuk menemukan tempat ini, namun tidak ada salahnya jika Anda selalu memastikan peta Istanbul selalu berada di tangan.

Bangunan Grand Bazaar ini cukup unik dan nilai sejarahnya dipertahankan, tidak ada satupun bagian dari bangunan Grand Bazaar ini yang berubah. Meski ramai dikunjungi para wisatawan, berjalan di Grand Bazaar sangatlah aman, tidak ada penjual asongan yang membuntuti kita ke mana-mana, dan tidak ada bahaya copet. Sebagian besar barang yang dijual bukanlah harga mati, meski ada di antaranya yang memang mencantumkan bandrol harga. Bangunan ini terdiri dari 4 pintu gerbang utama, dan setiap lorongnya dipisahkan berdasarkan kategori barang yang dijual. Namun sayang, karena semuanya tertulis dalam bahasa Turki, kami memutuskan untuk melihat-lihat barang yang dijual setiap kali kami melihat plank.

Tanpa disadari, pintu yang kami lalui untuk memasuki Grand Bazaar ini tidak terlihat lagi dan dengan modal nekat kami berjalan lurus saja mengikuti arus dan kamipun meninggalkan Grand Bazaar melalui pintu lain. Dapat dikatakan, kami sempat tersasar dan ketika ada dua belokan, kami hanya menebak saja dengan mengharapkan akan tiba di jalan besar atau sukur-sukur halte tram. Sayangnya yang kami harapkan tidak terjadi, dan pada satu titik kami tiba di persimpangan di mana kali ini nama jalan terpampang jelas. Setelah membuka peta, tebakan kami tidak seratus persen salah, karena ternyata kami berada tidak jauh dari obyek wisata lainnya yakni Pasar Rempah-rempah Mesir (Egyptian Spice Market).

Setelah berjalan sekitar 100 m, kami memasuki pasar yang sering disebut sebagai tujuan yang tidak boleh dilewatkan. Setelah sampai, terus terang saja tidak ada yang luar biasa dari tempat ini, karena sebagian besar rempah-rempah yang dijual dapat ditemukan di Indonesia. Namun demikian ada satu jenis rempah-rempah yang terus dipromosikan di setiap toko yang kami lewati, yakni Safron murni dari Iran. Warna rempah-rempah ini sangat menarik dan tidak jelas apa yang sebenarnya yang membuat produk ini begitu dipromosikan. Kualitas, rasa atau jangan-jangan toko-toko hanya memasang plank seperti ini untuk menarik perhatian para turis. Entahlah, yang jelas karena dirasa tidak ada yang dilihat, kami memutuskan meninggalkan areal pasar ini. Untuk keluar dari pasar ini sangatlah sulit, lautan manusia berjejal-jejalan, arus masuk dan keluar tidak teratur. Setelah beberapa menit berjuang kami berhasil keluar dari jejalan massa ini.

Memasuki malam terakhir kami di Istanbul, kami memutuskan untuk menghabiskannya di alun-alun antara Hagia Sofia dan Mesjid Sultan Ahmet. Pada awalnya kami berniat untuk mengikuti tur lainnya, yakni Golden Horn turn, untuk melihat-lihat bagian bersejarah lainnya dari kota Istanbul. Ketika kami mendekati salah satu bus, kami langsung dihampiri salah satu staf penjual tur. Sayang tur yang kami inginkan sudah berakhir dan sang penjual berusaha menjual paket lain, karena kami terlihat kurang antusias sang penjual merubah taktik, ia bertanya negara asal, ketika saya menyebutkan Indonesia, sang penjual ini langsung berbicara bahasa Indonesia, saya sangat terkejut sekaligus terkesan karena meski tidak lancar dan fasih, boleh dibilang sang penjual tur merupakan satu-satunya orang Turki yang saya temui yang berbicara bahasa Indonesia. Suasana pun berubah menjadi cair dan penuh canda. Meski akhirnya kami tidak jadi mengambil tur yang ditawarkan, pembicaraan kami diakhiri dengan penuh keakraban dan tentu saja kesan yang mendalam.

Akhirnya, malam terakhir, kami melewatinya dengan menikmati matahari terbenam di balik Hagia Sofia sambil menikmati secangkir kopi Turki dan menyimpan harap jika suatu hari nanti kami dapat kembali ke tempat ini.

Comments

Istanbul : Persimpangan Budaya Antara Barat dan Timur (Jilid 3)

Twitter : @SenyumDunia

Begitulah kesan yang kami dapati memasuki hari kedua di negara yang juga dijadikan lokasi film terbaru James Bond, Skyfall. Tanpa membuang waktu, kami langsung mengawali hari kedua ini dengan kunjungan ke kawasan kota tua. Setibanya kami di sana, kami sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa, di mana dua tempat yang bersejarah nan megah berdiri berhadap-hadapan.

Museum Hagia Sofia (Aya Sofia) letaknya berhadap-hadapan dengan Mesjid Sultan Ahmet. Keduanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja, kurang dari 10 menit. Dengan mempertimbangkan jam buka museum yang terbatas, kami memutuskan untuk mengunjungi Hagia Sofia terlebih dahulu. Tanpa disangka antrian untuk membeli tiket dan untuk memasuki museum begitu panjang. Saking panjangnya kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk mengantri tiket. Demi melihat bangunan bersejarah ini kami juga rela berdiri di tengah terpaan temperatur yang lumayan dingin dan disertai sesekali hujan gerimis.

Sambil menunggu, kami menghabiskan waktu dengan mengambil foto sambil menikmati sesekali hilir mudik pemandu wisata lokal yang menawarkan jasa yang berkali-kali melontarkan slogan guided tour, no queue. Pada awalnya kami tidak percaya pada slogan ini karena kami khawatir jika pada akhirnya jasa yang ditawarkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Namun ternyata ketika kami tiba di depan loket, memang tercantum jika para pemandu wisata memperoleh prioritas di setiap obyek wisata. Opsi kunjungan dengan pemandu ini hanya berbeda sekitar 20 Lira per orang. Dan memang benar, wisatawan yang mengambil opsi ini tidak perlu mengantri dan mendapat prioritas di pintu masuk.

Untuk memaksimalkan perjuangan kami, akhirnya kami membeli tiket Istanbul Museum. Tiket seharga 72 Lira per orang ini berlaku di beberapa museum sekaligus, termasuk di antaranya Istana Topkapi dan berlaku selama 72 jam. Selanjutnya antrian yang harus kami masuki adalah antrian menuju pintu masuk. Karena begitu banyaknya wisatawan, kami menunggu sekitar kurang lebih 45 menit, dan setelah sampai di pintu gerbang barulah kami mengerti apa yang membuat antrian ini sulit bergerak. Selain karena banyaknya pengunjung, antrian juga disebabkan pemeriksaan sekuriti di pintu gerbang Hagia Sofia. Seperti laiknya di bandara, pengunjung diharuskan melalui detektor metal sekaligus memeriksakan barang bawaan.

Memasuki bangunan ini, barulah kami dapat membuktikan kalau museum ini laik dinobatkan menjadi museum paling dikunjungi di Turki. Meski usianya sudah ribuan tahun bangunan ini terawat dengan baik. Terlepas dari fungsinya yang sudah berubah menjadi museum, sejarah dari bangunan ini yang awalnya difungsikan sebagai gereja dan pada perkembangan berikutnya menjadi mesjid terlihat jelas di bagian dalam bangunan ini. Tentu saja, arsitektur gaya kekaisaran Byzantium dapat dinikmati di setiap gedung ini. Singkat kata, mengunjungi Hagia Sofia membawa kita menjadi bagian dari sejarah masa itu. Blog ini terlalu kecil untuk menggambarkan secara rinci keindahan dan keunikan bangunan ini.

Setelah dirasa cukup, Mesjid Sultan Ahmet merupakan tujuan kami berikutnya sekaligus merupakan tujuan terakhir di hari kedua. Tidak ada antrian untuk memasuki Mesjid yang paling terkenal di Istanbul ini. Mesjid ini buka setiap hari kecuali pada hari Jumat yang tutup di pagi hari dan pada hari biasa ruangan dalam masjid ini ditutup untuk pengunjung 30 menit sebelum dan sesudah waktu shalat. Para petugas keamanan di masjid ini cukup simpatik dan sangat terbuka. Untuk pengunjung wanita misalnya, walaupun disarankan untuk mengenakan kerudung, mereka tidak melarang para wisatawan yang tidak mengenakan kerudung untuk memasuki areal mesjid. Meski demikian saya cukup terkagum-kagum dengan banyaknya jumlah wisatawan yang toh berkerudung ketika memasuki mesjid.

Memasuki bagian dalam mesjid ini merupakan pengalaman tersendiri, selain merasakan hawa sejuk jejak sejarah dari mesjid yang dibangun di era tahun 1500-an ini memiliki interior yang megah dan dinominasi keramik berwarna biru. Tidak heran, dalam bahasa Inggris, mesjid ini juga dikenal sebagai Blue Mosque. Dikarenakan kepopulerannya yang luar biasa, tidak mudah mengambil foto di tempat ini, ada aja orang yang berlalu lalang dan mengganggu sesi foto kami. Di sisi lain dengan sedikit bersabar, datang juga kesempatan untuk berfoto.

Secara umum, berdasarkan yang saya lihat mesjid di Turki memiliki gaya kubah yang sama. Rata-rata memiliki 2 hingga 4 minaret. Dari jumlah minaret ini, Mesjid Sultan Ahmet menjadi yang paling berbeda, karena merupakan satu-satunya mesjid di Istanbul yang memilki 6 minaret.

Setelah melalui hari kedua yang cukup padat, hari selanjutnya kami awali dengan menuju menara Galata. Obyek wisata ini tidak terlalu dipromosikan, keuntungannya tentu saja tidak ada antrian yang cukup panjang. Jalan menuju menara ini cukup berat, karena dari halte tram yang kami naiki, berjalan kaki sekitar 15 menit. Tidak hanya itu berjalan menuju lokasi menara ini juga harus melalui anak tangga yang tidak sedikit ditambah lagi trotoar yang menanjak.

Sebelum tiba saya sempat berpikir ratusan anak tangga yang harus saya lalui untuk tiba hingga ke puncak menara. Untunglah dugaan saya salah. Menara ini dilengkapi dengan lift yang membawa kita hingga lantai 7. Dari lantai 7 hingga ke puncak, ada beberapa anak tangga yang harus dilalui.

Pemandangan dari puncak menara ini sangat menakjubkan, hari itu kami juga diuntungkan dengan cuaca yang cukup baik walaupun sedikit berangin. Sayang sekali saya hanya bisa melihat menara ini satu putaran saja, karena terus terang saya merasa tidak nyaman berada di ketinggian di mana permukaan tempat saya berdiri hanya memiliki lebar kurang dari 100 cm antara tembok dan pagar yang membatasi puncak menara.

Permukaan ini menjadi sempit, ketika saya harus bergeser untuk memberikan jalan kepada wisatawan lain yang hendak lewat. Pagar pembatas di tempat ini tidak maksimal, ada celah yang cukup besar antara ujung tempat kami berdiri dan ujung pagar. Jika tidak hati-hati kamera yang terlepas dari genggaman, akan langsung terjatuh ke tanah. Dengan mempertimbangkan situasi ini saya memutuskan untuk menikmati pemandangan kota Istanbul dari dalam cafe dengan menikmati secangkir kopi Turki dengan aroma kayu manis yang menggoda.

Setelah dirasa cukup, kami bergegas menuju Istana Dolmabahe yang berjarak kurang lebih 10 menit dari menara Galata dengan menggunakan tram. Istana ini berada di tepi selat Bosphorus dan merupakan kediaman resmi 36 sultan yang pernah bertahta di Turki pada masa kekuasaan Kekaisaran Ottoman.

Sebelum pengunjung menuju loket tempat pembelian tiket, pos keamanan sudah menanti terlebih dahulu. Perlahan-lahan kami mendekati loket penjualan tiket. Dari kejauhan kami membaca pengumuman larangan berfoto di dalam istana dan adanya kuota kunjungan, guna menjaga struktur bangunan. Dengan kata lain, loket mungkin saja ditutup sebelum jam tutup, jika pengunjung hari itu sudah melebihi kuota.

Beruntung, kami berkesempatan memasuki istana ini. Sesampainya di pintu masuk utama, lagi-lagi kami harus mengantri, hal ini disebabkan adanya pengaturan grup yang dibentuk berdasarkan jumlah orang dan bahasa (asing dan lokal), dengan kata lain, kami hanya akan diizinkan masuk, setelah grup pendahulu kami selesai, maklum saja kunjungan ke Istana ini merupakan kunjungan dengan pemandu. Ada yang menarik ketika kami menunggu, untuk menjaga kebersihan istana, pengunjung diharuskan membungkus alas kaki dengan pembungkus plastik yang mirip sepatu balet yang tersedia di depan pintu masuk istana. Tanpa diduga pembungkus plastik ini tidak terasa licin, dan selama berada di dalam istana, efek plastik ini tidak terasa sedikitpun.

Kesan pertama kami tentang istana ini, mewah dan megah. Sayang sekali kami tidak diperbolehkan mengambil foto, larangan ini diberlakuan sejak tahun 2009 untuk alasan keamanan. Interior istana ini bernuansa Eropa dan mirip dengan rancangan di istana Versailles di Paris. Pilar-pilar di ruang utama berbahan marmer yang hiasannya dilapis emas. Setelah mendengar penjelasan pemandu, pengaruh Eropa ini dapat dimengerti mengingat perancang istana ini memang berasal dari Perancis dan Italia. Tidak hanya interior, mebel yang berada di dalam istanapun bergaya Eropa.

Ruang demi ruang kami lewati, dari mulai tempat menerima tamu hingga kamar tidur sultan dan ibu suri kami lalui sampai akhirnya kami tiba di tempat yang digunakan untuk perayaan hari besar keagamaan. Satu hal yang menarik perhatian pengunjung adalah lampu kristal yang sangat besar yang menjulang tinggi di tengah areal ini. Konon lampu kristal ini seberat 4 ton dengan ketinggian dari atap hingga lampu sekitar 36 meter. Diperlukan tenaga yang tidak sedikit untuk membersihkan lampu ini, mengingat kepingan kristal yang berjumlah sekitar 10 000 keping harus dibersihkan satu per satu dan memakan waktu 4 hingga 5 bulan dan secara keseluruhan, termasuk struktur lampu memakan waktu satu tahun lamanya.

Setelah menikmati kemewahan sekaligus kejayaan masa lalu, hari berikutnya kami langsung menuju Istana Topkapi. Istana ini cukup terkenal dan ketenarannya sering disandingkan dengan Hagia Sofia dan Mesjid Sultan Ahmet. Setibanya kami di sana, kami dikejutkan dengan ratusan pelajar yang ternyata pada hari itu sedang mengadakan study tour. Tidak jelas berapa sekolah, yang pasti jumlahnya tidak sedikit.

Sebagai imbas dari program sekolah ini, kamipun para wisatawan diharuskan berdiri di dalam antrian yang sangat panjang untuk memasuki ruangan demi ruangan di Istana yang sangat luas. Selama mengantri, ternyata wisatawan Asia merupakan daya tarik tersendiri bagi pelajar setempat, saya memperkirakan mereka adalah siswa SD. Saking antusiasnya ada di antara para wisatawan yang menjadi serbuan kamera ada juga yang diajak berbincang. Pendeknya menjadi wisatawan Asia di Istanbul, merupakan pengalaman menjadi selebriti.

Imbas yang lain tentu saja kami harus mengantri melihat koleksi yang dipamerkan, saking berjubelnya jumlah pengunjung, kami hanya mendapatkan waktu sekitar 1 hingga 2 menit saja per lemari koleksi, karena selain terdorong oleh antrian di belakang, wisatawan yang menghabiskan waktu terlalu lama akan menjadi korban teriakan dari petugas keamanan yang berjaga-kaga di ruang museum, belum lagi para wisatwan yang membandel mengambil foto dan menggunakan lampu kilat yang sudah pasti menambah stress petugas keamanan yang berjaga-jaga ini.

Komplek istana ini cukup besar dan terdiri dari beberapa bagian. Kami memerlukan waktu sekitar 4 jam lamanya untuk menjelajahi komplek istana ini termasuk mengunjungi harem yang merupakan bagian dari komplek istana ini. Tidak seperti istana Dolmabahe, istana Topkapi merupakan kastil yang difungsikan sebagai benteng pertahanan. Terlepas dari kompleknya yang besar, istana ini tidak menampakkan kemewahan, seperti laiknya benteng, kemegahan yang ditunjukkan berupa tembok benteng yang tinggi dan kokoh.

Satu-satunya bagian yang terlihat cantik adalah bagian belakang istana ini yang membelakangi selat Bosphorus. Taman bunga yang indah ini dikelilingi beberapa pavilion kecil dan pendopo-pendopo mini yang dihiasi ukiran bunga. Saya dapat membayangkan betapa cantiknya bagian pada musim panas.

Hari kelima memang berakhir di sini, namun cerita ini masih berlanjut. Pada bagian terakhir nanti saya masih menyimpan cerita seputar tempat-tempat yang memberikan kenangan tersendiri selama kami berada di sana, sampai jumpa pada jilid 4.

Comments

Istanbul Selayang Pandang (Jilid 2)

Twitter : @SenyumDunia

Setelah melalui penerbangan yang cukup unik, kamipun tiba di bandara Attaturk dan langsung menuju loket Visa Kedatangan. Beruntung, kami tidak perlu menunggu lama, dan untuk saya pribadi cukup waktu untuk sekedar menengok daftar harga untuk visa. Dalam hati terbesit pertanyaan mengapa warga Negara Indonesia harus membayar 25 dollar sementara ada begitu banyak negara yang tarifnya tidak semahal tarif visa untuk WNI. Di sisi lain saya positif saja, mungkin orang Indonesia dinilai mampu dan berita menarik lainnya, ada setidaknya satu negara yang tarifnya lebih mahal.

Giliran kami pun tiba, dan saya berpikir untuk membayar dalam bentuk Euro karena kami toh tiba dari Brussel dan bukan dari Jakarta. Ternyata apa yang saya pikirkan keliru. Si petugas loket, sama sekali tidak mengizinkan saya untuk membayar dalam bentuk Euro dan ngotot kalau saya harus membayar dalam bentuk dollar. Untunglah hal ini tidak berlangsung lama, karena saya toh membawa dollar. Pada akhirnya kami dapat visa, dan si petugas loketpun senang.

Setelah melalui pemeriksaan paspor, kamipun melenggang untuk mencari taksi. Sistem taksi di sana, tidak sesederhana yang kami pikirkan. Untunglah ada seorang petugas yang baik hatinya dan mengarahkan kami kepada taksi yang tersedia. Akhirnya, setelah kami memasuki taksi barulah kami merasakan ucapan selamat datang. Sang supir dengan ramah membagikan tips tips yang berguna, tidak hanya seputar tempat-tempat menarik tetapi juga tempat makan, jam buka tempat wisata yang kami rasakan sangat berguna.

Dari taksi, saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengenali kota yang baru pertama kali saya kunjungi ini. Secara umum, saya mendapatkan kesan kota ini merupakan kota yang bersih walaupun saya agak ngeri melihat para pengguna jalan yang tidak mengenal takut. Kalau boleh saya gambarkan, mirip film Fast and Furious. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan laut Marmara yang cukup memukau, sayang sekali pemandangan secantik ini tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemilik rumah makan. Mereka lebih suka membuka restoran, agak jauh dari bibir pantai. Tentu saja, jika memang pemerintah setempat melarang pembukaan restoran langsung di tepi pantai, saya dapat memakluminya.

Tanpa terasa, 30 menitpun berlalu dan tibalah kami di areal tempat kami menginap. Karena supir kami tidak mengetahui persis letak hotel kami, ia bertanya kepada orang-orang di sepanjang jalan, dari mulai pedagang hingga pejalan kaki. Sepintas lalu, saya mendapatkan kesan jika mereka bertanya dengan cara berteriak seperti orang sedang marah. Tetapi kesan ini lumer seketika ketika di akhir percakapan mereka saling melempar senyum. Ketika kami tiba di jalan utama kami dikejutkan dengan penutupan jalan menuju hotel kami, kami hampir saja harus berjalan dari taksi menuju hotel. Namun kekhawatiran ini tidak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian, blokir jalan terbuka dengan otomatis dan kamipun turun dengan perasaan senang, dan sang supir juga mengatakan kalau kami beruntung hari itu, karena tidak biasa-biasanya pembukaan jalan berlangsung secepat itu.

Biaya hidup di Istanbul, tidaklah terlalu tinggi. Setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa negara lainnya di Eropa. Untuk ongkos taksi misalnya, untuk perjalanan 30 menit antara bandara dan hotel, kami hanya menghabiskan sekitar 47 Lira, walaupun memang nilai ini merupakan kompensasi dari taksi yang tidak ber-AC. Untung saja, hari itu cukup dingin (sekitar 8 dejarat celcius) dan panasnya taksi kami rasakan sebagai penghangat.

Hari pertama di Istanbul kami lalui dengan mempelajari areal hotel kami. Hotel ini terletak dekat dari halte tram Sirkei dan ternyata Hagia Sofia serta Mesjid Sultan Ahmet hanya berjarak 2 halte saja dari tempat kami menginap dan dalam jarak 1 halte atau kurang lebih 10 menit berjalan kaki, pintu gerbang istana Topkapi menanti. Selain itu, hotel tempat kami menginap juga dikelilingi begitu banyak restoran, baik sekelas rumah makan maupun restoran. Tidak hanya itu, dengan berjalan 5 menit saja menuju halte tram, kami sudah menemukan toko yang menjual baklava, makanan kecil yang serba manis khas Turki. Pendeknya, areal hotel tempat kami menginap merupakan lokasi yang ramai dan strategis.

Hari berikutnya kami langsung mempelajari sistem kendaraan umum di sana. Hotel kami dengan baik hati meminjamkan Istanbul Card yang kami isi ulang sendiri dan memberikan peta kota beserta penjelasan yang menarik. Dengan merogoh kocek sebesar 30 Lira, cukup untuk 2 orang selama seminggu. Tempat isi ulang pun tidak sulit ditemukan, di halte Sirkei misalnya terdapat mesin yang disebut jetonmatik. Mesin ini tidak hanya berguna untuk membeli kredit tetapi juga dapat digunakan untuk mengecek sisa kredit yang ada.

Sistim transportasi di Istanbul sangatlah modern, tertib dan aman. Beberapa kali kami harus menaiki tram yang penuh sesak, namun tidak sekalipun kami merasa takut copet atau kejahatan lainnya yang lazim terjadi di dalam kendaraan umum. Jam operasionalnya pun cukup panjang, dari jam 6 pagi hingga tengah malam. Selain itu frekuensi tram pun cukup teratur. Selama kami berada di sana, maksimal waktu tunggu yang kami rasakan sekitar 5 menit saja. Namun jika kami rata-ratakan, waktu tunggunya mungkin sekiatar 3 menit.

Sebagian besar obyek wisata di Istanbul dapat dijangkau dengan tram. Tergantung lokasi tempat anda menginap, anda dapat menjangkau beberapa obyek wisata bahkan dengan berjalan kaki. Dalam pengmatan kami hanya beberapa tempat saja yang lokasinya lebih mudah dijangkau dengan menggunakan taksi, di antaranya Museum Kariye (Gereja Chora), Mesjid Sulemaniye dan menara Galata.

Sekedar informasi saja, taksi di Istanbul tidak sekeren taksi di Jakarta, anda tidak akan melihat supir taksi yang berseragam apalagi taksi dengan identitas pengemudi, dan semua taksi yang kami tumpangi (kurang lebih kami 4 kali naik taksi), sekali lagi tidak satupun yang ber-AC, namun saya menangkap kesan taksi dilengkapi pemanas ruangan dan bukan AC (pendingin ruangan). Terlepas dari situasi ini, taksi di Istanbul selalu beroprasi dengan menggunakan argo. Mungkin sulit dipercaya, namun selama kami berada di sana, kami tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Dalam setiap rute, kami selalu mengecek peta dan plang petunjuk jalan. Sejauh pengamatan dan apa yang kami rasakan, tidak ada supir taksi yang sengaja beputar-putar untuk menaikkan argo.

Perlu juga sedikit saya tambahkan, dari 4 kali naik taksi yang kami alami, 3 supir taksi tidak berbicara bahasa Inggris. Mungkin tidak ada salahnya jika anda bermaksud pergi ke Istanbul untuk mempelajari dasar-dasar bahasa Turki. Ada satu hal yang perlu diwaspadai, uang Lira palsu. Yang kami alami, ternyata mendapatkan pecahan 50 Lira palsu. Tidak pasti di mana kami memperoleh ini. Yang pasti berkat kejadian ini, salah satu pedagang menunjukkan cara bagaimana mendeteksi Lira palsu. Pada uang palsu gambar hologram yang merupakan bagian dari tali segel di sebelah kanan pudar, dan ketika dipegang, uang palsu lebih tipis daripada yang asli.

Aspek terakhir yang ingin saya soroti dalam bagian kali ini tentu saja keramah tamahan masyarakat Turki. Kecuali supir taksi yang tidak selalu berbahasa Inggris, selebihnya tidak ada masalah. Dari mulai pelayan restoran hingga penjual suvenir, mereka berbicara fasih berbahasa Inggris. Satu hal lagi, orang Turki termasuk orang yang terbuka terutama terhadap turis dan mereka memiliki selera humor yang baik. Singkat kata, selama berada di sana, kami tidak merasa sedikitpun berada di negara asing.

Bagian ini saya cukupkan hingga di sini, cerita selanjutnya akan disajikan dalam jilid 3.

Comments

3 Jam Menuju Istanbul (Jilid 1)

Twitter : @SenyumDunia

Setelah beberapa tahun menanti, tercapai juga keinginan saya untuk mengunjungi Istanbul, kota yang merupakan perpaduan antara timur dan barat sekaligus merupakan salah satu pusat sejarah dunia.

Perjalanan diawali dari kota Brussel, dan seperti perjalanan lainnya kami langsung menuju ke loket check in seperti yang diindikasikan layar keberangkatan. Setibanya kami di loket, kami dikejutkan dengan loket yang masih kosong. Setelah mendapatkan informasi, ternyata kami datang setengah jam terlalu awal. Baru pertama kali ini kami mendapati loket check in yang kosong, sementara layar keberangkatan mengindikasikan sebaliknya.

Tahap pertama kami lalui tanpa kendala apapun. Kamipun tiba di pintu keberangkatan. Ada hal yang tidak terlalu biasa ketika dalam sistem pemanggilan penumpang untuk naik pesawat. Biasanya, para pelancong dipanggil berdasarkan barisan tempat duduk. Namun kali ini, walaupun tujuannya sama, penumpang dipanggil berdasarkan grup seperti tertera di pas naik.

Ketidakbiasaan ini berlanjut hingga kami melewati lorong menuju pesawat. Yang paling lazim (setidaknya menurut pengalaman saya), grup pertama terlebih dahulu dipersilahkan naik ke pesawat, dan setelah mereka duduk, baru grup berikutnya dipersilahkan naik. Namun kali ini, kenyataan berkata lain, terlepas dari pemanggilan per grup, kami terlebih dahulu dikumpulkan di lorong menuju pesawat, baru setelah semuanya terkumpul, secara bersamaan, barulah kami dipersilahkan naik pesawat. Di luar dugaan, semua berjalan dengan tertib dan efisiensi yang dicapai tidak jauh berbeda dari sistim konvensional (baca : yang biasa).

Dalam perjalanan singkat menuju pesawat, kami bertanya-tanya, kejutan apa lagi yang menunggu kami. Pertanyaan ini terjawab hanya dalam jangka waktu beberapa menit. Di pintu pesawat kami tidak melihat senyuman ramah awak kabin, tetapi kami disambut senyuman setengah ramah dari seorang juru masak. Ya! Seorang juru masak, lengkap dengan pakaian dan topi seorang koki. Saya lalu berpikir, apakah mungkin selama penerbangan ini kami akan dihibur dengan demo masak di udara? Setelah dua jam berada di dalam pesawat, sang koki hanya tampil untuk menghidangkan minuman panas dan tidak ada demo masak.

Dalam setiap penerbangan ada satu momen yang saya tunggu, apalagi kalau bukan momen untuk menyantap makan siang. Awak pesawat dalam penerbangan ini sangatlah santai, kami harus menunggu cukup lama, hingga makanan datang. Sambil menunggu, sayapun menghabiskan waktu membaca menu hidangan yang akan disajikan. Selama menunggu, kami ditemani alunan suara seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih 4 tahun yang duduk di deretan kursi tepat di sebelah kami, yang menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star selama penerbangan berlangsung. Tentu saja, kami sangat terhibur sekaligus mengapresiasi inisiatif ini yang membolehkan seluruh penumpang untuk menikmati konser live secara cuma-cuma.

Sambil menikmati konser ini, saya melanjutkan membaca menu. Perhatian saya langsung tertuju kepada menu sate ayam. Tentu saja sebagai orang Indonesia, bukan main senangnya ketika saya melihat menu tersebut, dan saya langsung membayangkan lezatnya sate ayam dengan guyuran saus kacang yang menggoda selera. Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya sate ayam yang ditunggu-tunggu datang juga. Sekali lagi saya dibuat kaget ketika membuka tutup kotak saji, ternyata sate ayam yang berada di hadapan saya 180 derajat berbeda dari apa yang saya bayangkan. Daging ayam tidak disajikan dalam tusuk sate dan warna hidangan ini kuning, seperti kari. Tidak ada yang dramatis tentu saja, jika memang inilah sate ayam versi mereka, kenapa tidak, toh ketika dicicipi rasanya enak. Apalagi dengan kombinasi roti dan nasi, membuat saya cukup kenyang. Dengan kata lain, saya menikmati hidangan ini.

Waktupun berlalu, sang koki mulai menyajikan minuman hangat dan alunan lagu Twinkle Twinkle Little Star masih mengalun. Beberapa saat kemudian, saya melihat salah seorang pramugari membagikan buku cerita untuk anak-anak. Tentu saja penyanyi cilik yang berada di deret kursi sebelah tidak terlewatkan. Entah karena terkesima atau karena perawakan saya yang terbilang kecil, sang pramugari hampir saja memberikan buku cerita yang sama kepada saya. Sedetik kemudian, ia menyadari bahwa saya tidaklah semuda yang ia bayangkan dan ia langsung membatalkan niatnya untuk membagikan buku cerita tersebut.

Tanpa terasa waktu mendarat pun mendekat. Hitung-hitung menunggu sekalian menambah pengetahuan saya iseng-iseng membaca teks dalam bahasa Turki yang kebetulan tertera tidak jauh dari tempat duduk kami. Tidak banyak memang yang saya ingat, tapi mengingat kata aik yang berarti buka dan ikis yang berarti pintu keluar.

Tiga jam pun berlalu dan kami tiba di Istanbul sekitar pukul 16:00 waktu setempat.

Cerita selanjutnya akan dituliskan dalam jilid 2.

Comments

SBY : Di Antara 7 Jendral dan Isu Penggulingan

Twitter : @SenyumDunia

Pertemuan SBY dengan 7 petinggi militer, menjadi isu hangat yang diangkat beberapa media. Nuansa yang saya tangkap dari pemberitaan ini adalah kecemasan sekaligus upaya media untuk memberikan peta kekuatan pada pemilu Presiden yang akan digelar tahun depan.

Secara umum saya tidak melihat hal ini sebagai sesuatu yang istimewa, jika saja pertemuan ini dilakukan di awal atau di tengah masa pemerintahan SBY. Dalam artian, saya sangat mengerti mengapa SBY melakukan ini. Tanpa bermaksud berspekulasi, saya melihat pertemuan ini sebagai suatu pertemuan silaturahmi karena pak SBY sendiri datang dari kalangan militer. Di sisi lain, nuansa pertemuan menjadi berbeda ketika publik mengkaitkan pertemuan ini dengan pemilu presiden tahun 2014. Ada kesan bahwa SBY ingin sekali memperlihatkan bahwa seorang SBY bukan figur yang dapat dianggap enteng. Tentu saja, bukan tidak mungkin melaui forum ini SBY ingin memberikan petuah dan menitipkan negara ini setelah ia lengser nanti.

Di sisi lain saya juga menangkap pesan jika pertemuan ini digelar atas dasar kekhawatiran akan isu kudeta. Kata-kata kudeta atau makar terdengar sangat keras. Walaupun nuansanya tidak jauh berbeda saya lebih suka mengatakan apa upaya untuk melengserkan SBY.

Pelengseran seorang Presiden melalui demonstrasi masal bukanlah yang pertama kali terjadi di Republik ini. Kita semua tentu saja masih ingat hingar binger pelengeseran Soeharto pada tahun 1998, kala itu krisis keuangan Asia menjadi salah satu pemicu gerakan besar-besaran yang dimotori mahasiswa. Selain itu momen ini dilihat sebagai momen yang tepat untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasaan dilandasi semangat kebersamaan menuju era reformasi.

Namun agenda yang kali ini didengungkan, terus terang saja tidak jelas. Mengemukakan pendapat memang boleh-boleh saja dan bahkan dinilai sebagai suatu hal yang wajar dalam iklim demokrasi, namun jika ditargetkan untuk menurunkan SBY, saya berharap pihak-pihak yang bersangkutan akan mempertimbangkan kembali rencana ini.

Secara pribadi, terus terang saja saya memang memilih SBY pada dua pemilu terakhir. Namun saya juga harus jujur mengakui jika kinerja pemerintahan jilid 2 kurang maksimal. Begitu banyak hal yang masih harus dibenahi, tidak hanya kasus korupsi yang malah semakin marak, tetapi juga fluktuasi harga kebutuhan pokok yang tidak kunjung usai. Dan sederet ketidakpuasan lainnya yang terlalu panjang jika saya sebutkan satu persatu.

Namun, deretan kekecewaan ini tidak serta merta membuat saya berpikir untuk bergerak menurunkan presiden, sama sekali tidak. Argumen untuk melengserkan presiden, terlalu lemah. Kita juga harus mengakui ada beberapa hal positif yang kita peroleh selama masa pemerintahan SBY. Saya akan mengambil contoh yang paling mudah, kebebasan mengemukakan pendapat. Walaupun sekali lagi SBY datang dari kalangan militer, kekuatan ini tidak dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam kebebasan mengemukakan pendapat. Hal ini dapat kita lihat bersama dari jumlah demonstrasi yang dilatarbelakangi tuntutan yang berbeda. Selain itu, jika kita melihat kebebasan pers, di mana kita dapat melihat apa yang terjadi di republik ini dengan terang benderang, dan tanpa sensor, merupakan sesuatu yang berharga, yang juga perlu disyukuri segenap rakyat Indonesia. Saya berani mengatakan demikian, karena kebebasan ini tidak dimiliki negara-negara lain, contohnya saja Cina atau bahkan Italia sekalipun.

Kita tidak perlu khawatir akan keselamatan dan keamanan kita ketika kita mengemukakan pendapat di forum manapun. Pandangan ini merupakan pandangan umum dan dilihat secara global, tentu saja.

Selain itu, jika dilihat dari momennya, saya melihat momen yang dipergunakan sangatlah tanggung. Pemilu Presiden, akan digelar tahun depan. Jadi apa salahnya jika kita memberikan kesempatan kepada SBY untuk menyelesaikan masa tugasnya yang tinggal berjalan setahun ini. Lagipula, suka tidak suka SBY merupakan presiden hasil pemilu yang berjalan demokratis dan merupakan pilihan dari sebagian besar rakyat Indonesia.

Hal lain yang saya khawatirkan dari momen yang tanggung ini adalah masa transisi yang mungkin berjalan setengah alias tidak matang. Saya juga mempertanyakan urgensi dari desakan lengser ini, apa yang ingin dicapai dari gerakan ini? Dan apa langkah konkret dari gerakan ini? Kalaupun apa yang mereka inginkan tercapai, terus terang saja saya ragu jika republik ini akan memasuki babak baru yang signifikan. Apakah dengan lengsernya SBY, korupsi akan musnah? Apakah pula dengan lengsernya SBY harga bawang akan langsung membaik, penegakan hukum akan berjalan tanpa masalah? Secara pribadi, saya sangat pesimis. Karena menuju ke arah yang lebih baik, tidak ada yang instan dan membutuhkan proses pastinya.

Yang juga laik dijadikan pelajaran bagi kita semua adalah, revolusi yang terjadi di Mesir. Saya masih ingat, hari itu mantan Presiden Mubarak menyatakan bahwa dirinya hanya berniat menyelesaikan masa jabatannya pada bulan September dan tidak akan mencalonkan diri kembali. Tetapi rupanya para demonstran ini sudah tidak sabar, dan menganggap jangka waktu 6 bulan merupakan jangka waktu yang terlalu lama. Mereka berhasil menumbangkan presiden Mubarak dan beritanya begitu membahana ke seluruh dunia. Sedihnya, saya tidak merasa menjadi bagian dari kebahagiaan rakyat Mesir kala itu.

Kita semua sama-sama menyaksikan, pelengseran Mubarak tidak membawa hasil positif kepada segenap rakyat Mesir. Kita masih melihat adanya demonstrasi yang menyatakan ketidakpuasan atas kinerja presiden Mursi. Padahal atas kemauan rakyat sendiri Mubarak ditumbangkan dan atas pilihan rakyat Mesir sendiri Mursi dipilih.

Dengan kata lain, agenda yang tidak terarah dan hanya dilandasi emosi sesaat hanya akan menghasilkan eforia sesaat dan tidak menyentuh akar masalah. Dalam contoh revolusi Mesir ini, ini pula kiranya pelajaran yang harus kita ambil, kembali ke mekanisme demokrasi dan memilih orang yang tepat untuk memimpin republik ini. Sebagai seorang warga negara Indonesia, tidak ada salahnya sekali jika kita menunggu SBY hingga tiba di akhir masa jabatannya, jika bukan rakyatnya sendiri yang akan mendukung siapa lagi.

Kita semua, pasti menginginkan perubahan. Tidak ada yang dapat menjamin memang jika perubahan ini akan datang, namun 2014 tidak akan lama lagi, kita akan melihat siapa yang nanti mengemban mandat untuk memimpin republik ini, yang akan membawa angin segar dan membawa negara kita ke arah yang lebih baik lagi.

Comments (11)

Memaknai Perayaan Tahun Baru Imlek Sebagai Bagian dari Kebhinekaan

Twitter : @SenyumDunia

Besok, warga Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan tahun baru Imlek, tahun baru ini akan memasuki tahun Ular air. Kemeriahan perayaan Imlek ini sudah terasa dengan maraknya berita seputar persiapan dan tradisi yang dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa dalam menyambut datangnya tahun baru ini.

Sebagai orang Indonesia saya senang dan bangga karena di negara kita Tahun Baru Imlek merupakan hari libur nasional. Indonesia memang bukan satu-satunya yang meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional, namun demikian negara kita merupakan bagian dari sedikit negara di luar Asia Timur yang menetapkan tahun baru Imlek ini sebagai hari libur nasional.

Perayaan ini tahun baru Imlek juga memperkaya ragam budaya Indonesia, karena walau bagaimanapun masyarakat keturunan Tionghoa merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Selain itu berita yang ditampilkan menjelang tahun baru Imlek juga memperkaya khasanah wawasan budaya kita akan perayaan dan makna dari Tahun Baru Imlek ini.

Di sisi lain, perayaan tahun baru Imlek ini juga mengingatkan saya kepada perjalanan panjang yang harus dilalui warga keturunan Tionghoa. Perayaan ini dan segala hal yang berbau Tionghoa sempat dilarang pada era orde baru, pada kurun waktu 1968-1999 dan baru pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967, hingga akhirnya diresmikan menjadi hari libur nasional pada tahun 2002 dalam pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Tidak hanya itu, peristiwa lainnya yang merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa ini adalah insiden yang terjadi pada bulan Mei 1998. Kita tahu pada masa itu begitu banyak penjarahan dan masyarakat dari etnis Tionghoa menjadi sasaran dari kerusuhan dan kekerasan yang terjadi pada masa itu.

Kedua peristiwa ini merupakan lembaran hitam dari perjalanan bangsa ini. Dan sudah sewajarnyalah kita menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar apa yang terjadi, tidak terjadi lagi di masa kini dan mendatang. Kita wajib bersyukur karena negara kita dikaruniai keindahan dengan beragam etnis dan ragam budaya di dalamnya. Adalah tugas kita bersama untuk menjaga keindahan dan keragaman ini dalam satu harmoni, di mana kita dapat hidup damai dan berdampingan dan melihat perbedaan sebagai keindahan.

Dalam perjalannya memang tidaklah mudah untuk mewujudkan hal ini. Namun jika segenap lapisan masyarakat bersama-sama berusaha untuk mewujudkannya, kita mampu mempertahankan keragaman yang kita miliki dalam kesatuan.

Selamat Tahun Baru Imlek 2654.

Comments

Partai Penguasa di Persimpangan Ketidakpastian

Twitter : @SenyumDunia

Berita seputar kisruh Partai Demokrat kembali mencuat ke permukaan. Kali ini yang menjadi penyebab utama mencuatnya berita ini adalah hasil salah satu lembaga survey yang menyatakan bahwa tingkat elektabilitas partai ini turun hingga ke tingkat 8% dan isu wacana pelengseran ketua umunya yang dikemukakan dua menteri dari partai yang sekaligus yang juga sekaligus anggota dewan kehormatan.

Seperti halnya saya, mungkin di antara Anda ada yang capek sekaligus jenuh menyaksikan berita ini. Hal ini tidak berlebihan, mengingat himbauan agar pak Ketua mundur bukan lagi hal baru. Sudah beberapa kali Ruhut Sitompul menghimbau hal yang sama, namun sayang himbauan-himbauan ini tidak efektif dan akhirnya himbauan ini disikapi kerepotan dari sejumlah media mungkin juga publik. Pada kenyataannya, kita sama-sama melihat, dalam tubuh partai ini juga tidak adanya kekompakan. Kubu yang menginginkan Anas mundur dan Anas bertahan sama-sama kuat. Dan yang terpenting, hingga saat ini terlepas dari beberapa kali usaha melengserkan Anas, sang ketum tetap terlihat tenang dan santai dalam menanggapi isu ini.

Di sisi lain mungkin pernyataan Anas dalam salah satu wawancara dengan salah satu televisi swasta ada benarnya. Hasil survey memang indikator, tetapi bukan berarti hasil tersebut merupakan referensi mutlak di pemilu 2014 nanti. Dengan kata lain, hasil survey bisa benar bisa juga tidak, lihat saja prediksi kemenangan Foke pada pilkada Gubernur DKI 1 beberapa waktu lalu, di mana hasil quick count dan hasil akhir berbanding terbalik dengan hasil survey.

Aspek lain yang juga perlu dicermati adalah, beberapa hari ini media begitu antusias meliput pernyataan SBY, hingga rapat yang diadakan di Cikeas yang lagi-lagi, saya mendapat kesan rapat ini diasumsikan rapat untuk melengserkan sang ketum. Sedangkan sang ketum sendiri menanggapinya dengan sangat tenang dan bahkan menjelaskan jika rapat yang digelar merupakan rapat rutin, ia juga menyatakan bahwa hubungan dirinya dengan ketua dewan pembina, baik-baik saja. Jadi saya pikir, tidak perlu repot-repot rasanya untuk terus memaksakan wacana pelengseran ini. Walau bagaimanapun, suka tidak suka, dalam pandangan demokrasi, Anas terpilih secara demokratis pada kongres Bandung tahun 2010 lalu. Dengan kata lain legitimasinya tidak perlu dipertanyakan. Dan yang kedua, AD/ART partai memang tidak memungkinkan untuk memberhentikan ketua umum kecuali dalam hal pengunduran diri.

Yang saya sayangkan adalah tentu saja sikap kurang cermat dan kurang bijak yang terus dilakukan beberapa kader demokrat, yang dengan sangat gamblang mengemukakan hal ini kepada media. Mestinya, berdasarkan pengalaman yang lalu, mereka sudah harus lebih matang menyikapi hal ini dan lebih mengonsentrasikan diri konsolidasi ke dalam, dan melakukan perbaikan-perbaikan. Bukan saja dalam rangka menjelang pemilu tahun 2014 nanti, tetapi sebagai upaya untuk menggalang kekuatan hingga partai ini bangkit dari keterpurukan dan menjadi partai yang solid.

Terus terang saja jika saya cermati lebih jauh lagi, persoalan di partai ini tidak hanya menjadi tanggung jawab ketua umum, tetapi lebih dari itu, kelangsungan dan kesuksesan partai ini merupakan hasil harmonisasi dan komitmen dari seluruh elemen partai.

Selain faktor internal ada faktor eksternal yang menyandera partai ini. Apalagi kalau bukan indikasi keterlibatan ketum yang juga mendasari pemberitaan yang sensasional ini. Nazarudin begitu rajin mengungkapkan indikasi ini, namun sejauh ini penyelidikan KPK tidak bergerak terlalu jauh, secara pribadi saya bahkan terkejut ketika membaca teks berjalan yang menyatakan tidak adanya larangan ke luar negeri bagi Anas. Saya tidak bermaksud mendudukan Anas sebagai tersangka, sama sekali tidak, tetapi tidak ada salahnya jika KPK mempertimbangkan larangan ke luar negeri bagi nama-nama yang diindikasikan terlibat kasus korupsi, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika pararaf ini ditulis, SBY sudah mengumumkan 8 solusi untuk menyelamatkan partai, namun harus diakui 8 solusi ini, terutama yang berkaitan dengan ketua umum sangatlah abu-abu. Di satu sisi, Anas masih merupakan ketua umum, namun di sisi lain ada pengambilalihan tugas oleh majelis tinggi.

Sebagai penutup, saya berharap tentu saja kisruh di partai ini diselesaikan dengan baik. Kita sebagai publik, akan lebih bijak lagi jika kita menyikapi berita ini dari sudut pandang yang proporsional. Seheboh apapun berita yang ditampilkan, tidak akan ada perubahan yang signifikan, hingga saat ini Anas toh tetap jadi ketua umum. Yang dapat kita lakukan sebagai calon pemilih adalah, menjadikan berita-berita ini sebagai barometer dan referensi agar kita cermat dan bijak dalam menentukan pilihan kita nanti pada pemilu yang akan digelar tahun depan.

Comments

Hikmah di Balik Banjir

Twitter : @SenyumDunia
Tahun ini banjir yang terjadi di Jakarta sangatlah dahsyat. Saking dahsyatnya, kantor Gubernur hingga istana-pun ikut kebanjiran. Fenomena tahunan ini juga kabarnya terdengar hingga ke manca negara. Tidak mengherankan dan tidak berlebihan mengingat luas wilayah yang terkena banjir serta volume debit air yang sempat merendam ibukota begitu mencengangkan.
Melalui tulisan ini saya juga ingin mengungkapkan rasa prihatin saya kepada saudara-saudara kita yang terkena banjir dan mereka yang tewas dalam peristiwa ini. Saya berharap semuanya diberikan ketabahan dalam menghadapi bencana ini.
Ada beberapa aspek yang menjadi sorotan pada banjir tahun ini. Yang menjadi sorotan pertama tentunya pemerintahan Jokowi. Memasuki masa 100 hari, masa kepemimpinannya langsung disambut banjir besar. Ada beberapa pihak yang sangat sinis, karena Jokowi dianggap tidak mampu mengatasi banjir ada juga yang menjempoli ada juga yang merasa prihatin.
Saya pribadi tidak termasuk yang pesimis apalagi yang mencibir. Memang dalam salah satu program kampanyenya, seperti juga cagub dan cawagub yang lain, banjir adalah salah satu agenda penting yang laik diperhatikan. Apalagi, sudah menjadi rahasia publik, jika beberapa titik di Jakarta memang sudah menjadi langganan banjir. Namun yang terjadi adalah banjir yang baru-baru ini terjadi di luar antisipasi Jokowi. Saya menyaluti komitmen pak Gubernur yang turun ke lapangan tidak hanya meninjau atau memantau, tetapi juga memastikan jika beberapa pekerjaan yang harus selesai di antaranya perbaikan tanggul di kawasan Latuharhari, juga dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu.
Pemerintah juga begitu tanggap atas kejadian ini, pasukan Kopasus langsung dikerahkan untuk membantu evakuasi dan pos-pos pengungsian disediakan dengan fasilitas yang memadai. Yang saya sayangkan adalah adanya warga yang enggan dievakuasi. Sikap seperti tentu saja sangat tidak diharapkan mengingat tugas awak Kopasus ini tidak ringan dan jumlah orang yang dievakuasi tidaklah sedikit. Alasannya pun kebanyakan tidak masuk akal dan rata-rata memikirkan harta benda. Padahal dalam kehidupan ini tidak ada seorangpun yang ingin kehilangan harta benda, namun dalam kejadian ini bukanlah keselamatan jiwa jauh lebih penting daripada harta benda?
Di samping itu ada satu cerminan sekaligus pelajaran yang dapat kita ambil sebagai warga masyarakat. Banjir di satu sisi memang bencana alam, dan di sisi lain akibat perbuatan manusia sendiri. Kita patut bersyukur memiliki seorang Gubernur yang cepat tanggap dan bergerak cepat. Tidak ada salahnya jika kita mendukung kesigapan pemprov DKI dengan cara meningkatkan disiplin. Salah satu cara yang tidak sulit namun masih terlihat kurang dilakukan adalah membuang sampah pada tempatnya. Di Jakarta ini begitu banyak tempat di mana tempat sampah disediakan, pada kenyataanya fasilitas ini tidak dipergunakan dan sebagian masyarakat malah membuangnya ke kali yang pada gilirannya menyumbat aliran air kali, yang juga menjadi penyebab banjir. Salah satu rencana dari pemprov DKI adalah membersihkan areal pemukiman liar di bantaran kali Ciliwung, saya berharap langkah ini juga mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat, dengan cara meninggalkan lahan yang memang tidak diperuntukan bagi pemukiman. Lagipula pemprov Jakarta juga sudah menyiapkan rencana dan kompensasi yang baik untuk mendukung relokasi mereka. Jika ini jadi dilakukan, maka pemprov DKI juga dapat menggunakan lahan ini sebagai lahan resapan air.
Partisipasi lain yang dapat kita lakukan adalah membudayakan kembali kerja bakti. Beberapa waktu yang lalu Jokowi sempat menghimbau hal ini, dan menurut saya ini adalah suatu himbauan yang baik. Selain mengusahakan lingkungan yang bersih, kerja bhakti yang didasari semangat gotong royong akan mengembalikan kembali semangat solidaritas dan silaturahmi, paling tidak di lingkungan kita sendiri. Jika setiap lingkungan melakukan hal ini, Jakarta akan menjadi kota yang nyaman, bersih dan sehat.
Elemen lain yang dapat melibatkan diri adalah pengusaha. Selama ini begitu banyak proyek-proyek real estat yang keberadaannya juga menutupi lahan hijau. Banjir ini setidaknya juga merupakan pengingat akan pentingnya lahan hijau, jadi para pengusaha juga dihimbau untuk mempertimbangkan keberadaan lahan hijau dan mengusahakan sistem drainase yang baik. Dengan sistem seperti ini, maka bukan tidak mungkin daerah resapanpun akan semakin luas lagi.
Di samping masalah disiplin, potret lain yang saya tangkap selama mengikuti berita banjir ini tentu saja semangat solidaritas. Begitu banyak elemen masyarakat, pengusaha bahkan hingga partai politik membangun posko bencana yang tujuannya membantu saudara-saudara kita yang terkena korban banjir. Beberapa media memang sempat menyoroti kegiatan partai politik dalam kegiatan sosial ini, karena beberapa di antara mereka ada yang mengasosiasikan bahwa kegiatan ini untuk tujuan kampanye. Apapun itu, usaha dan inisiatif mereka perlu dihargai. Namun tentu saja semangat solidaritas yang tumbuh selama banjir berlangsung tidak berhenti sampai di sini alias akan berlanjut terus. Jika semangat ini terus ditumbuhkan, maka bukan tidak mungkin kesenjangan sosial akan lebih sempit lagi.
Sisi lainnya yang dapat kita amati ini, percaya atau tidaktahun ini tidak ada instansi pemerintah dan kawasan bisnis yang tidak luput dari banjir. Musibah ini memperlihatkan, tidak ada manusia yang super di muka bumi ini, seorang presiden pun dipaksa untuk menggulung celana demi berdiri di tengah-tengah banjir, suatu pemandangan yang langka namun nyata.
Dengan kata lain, kita memang tidak bisa menghindari bencana, tetapi dengan membudayakan hidup bersih dan sehat, bukan tidak mungkin efek banjir dapat lebih diminimalisir lagi. Lagipula, percuma saja jika pemerintah berbuat sesuatu tetapi tidak didukung, usaha mereka akan sia-sia dan tidak akan membuahkan hasil apapun. Sebaliknya dengan adanya partisipasi masyarakat, manfaat yang dirasakan adalah untuk masyarakat sendiri. Jadi, mari mulai sekarang kita budayakan hidup sehat dan budaya perduli lingkungan yang bersih.

Comments

« Previous entries