Aspirasi Seorang Pecinta Jakarta

Twitter : @SenyumDunia

Masa kampanye Pilkada mendekati detik-detik terakhir. Sebagai salah seorang warga Jakarta, tentunya saya berharap jika kampanye ini berjalan dalam batas-batas kewajaran dengan menitikberatkan agenda komunikasi program dan bukan hanya sekedar tebar pesona demi mencari simpati pemilih. Namun saya percaya warga Jakarta adalah warga yang cerdas yang mampu memilih dan memilah figur yang laik diberikan kepercayaan untuk memimpin Jakarta. Dengan kata lain, apapun dan bagaimana cara pala calon wagub berkampanye tidak akan mempengaruhi pilihan cerdas mereka.

Sebagai seorang pecinta Jakarta, ada beberapa hal yang ingin saya coba cermati dalam pilkada kali ini. Setidaknya hal positif yang saya tangkap adalah, 6 pasang cagub dan cawagub ini memiliki keseriusan untuk memimpin Jakarta, dan ingin menjadikan Jakarta jauh lebih baik.

Di sisi lain, ketika melihat berbagai visi dan misi, serta penampilan para calon wagub di berbagai forum debat, saya pesimis jika mereka mampu merealisasikan janji-janji kampanye mereka. Mudah-mudahan saja mereka menyesuaikan misi atau janji kampanye mereka mengantisipasi realitas yang terjadi di lapangan, seperti anggaran dan waktu yang tersedia serta koordinasi dengan pemerintah pusat. Tentu saja saya juga berharap mereka mempunyai gambaran lengkap tentang apa sebenarnya yang perlu dibenahi di Jakarta dan apa yang diperlukan warga Jakarta.

Para calon mengusung tema yang begitu populis. Contoh saja persoalan macet (cek visi dan misi gubernur), saya mendapatkan kesan bahwa mereka melihat persoalan ini sebagai persoalan yang mudah, yang dapat mereka selesaikan dalam masa jabatan mereka. Logikanya sederhana, jika Jakarta sudah dipimpin gubernur yang berbeda-beda, dengan visi dan misi yang berbeda pula. Kita melihat ada upaya untuk mengatasi kemacetan ini memang, sebut saja jalur 3 in 1, atau busway. Namun dalam kenyataannya, walaupun berat diakui, macet masih terjadi dan malah semakin parah dari tahun ke tahun. Jadi dengan kata lain, masa jabatan 5 tahun bukan tidak mungkin masa yang terlalu pendek untuk menjadikan Jakarta bebas macet atau setidaknya mengurangi kemacetan.

Saya sangat menghargai ide beberapa calon gubernur untuk memberdayakan angkutan umum untuk mengatasi kemacetan ini. Ide ini tidak buruk memang, tetapi permasalahannya kurangnya animo masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan kendaraan umum bukanlah satu-satunya penyebab kemacetan. Peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang tidak diimbangi dengan jumlah ruas jalan juga turut menyumbang faktor kemacetan. Secara pribadi saya menunggu misi para calon gubernur untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi, misalnya saja dengan meningkatkan jumlah pajak pembelian mobil mewah. Satu catatan kecil, penambahan jalan memang dalam proses pembangunan, dan pembangunan jalan ini merupakan domain dari pemerintah pusat yakni Departemen Pekerjaan Umum. Dengan kata lain, saya mengharapkan bahwa para cagub ini jujur memberikan apresiasi atas apa yang dilaksanakan departemen Pekerjaan Umum ini, dan melanjutkan apa yang sudah dirintis dengan koordinasi yang baik. Walau bagaimanapun, begitu banyak persoalan Jakarta yang tidak bisa ditangani oleh gubernur seorang. Selain itu, Jakarta memang kota yang sangat besar, rasa-rasanya tidak mungkin untuk mengatasi kemacetan hingga ke pelosok Jakarta. Oleh karena itu, saya berpikir semoga saja para calon gubernur ini menentukan skala prioritas dengan mengatasi kemacetan di pusat bisnis Jakarta.

Masih seputar kemacetan Jakarta, saya cukup terkejut ketika mendengar hanya 2 pasang calon gubernur saja yang memiliki misi untuk mempercepat atau melanjutkan proyek Mass Rapid Transport (MRT). Padahal dalam pandangan saya, yang tetap bangga akan Jakarta, ibukota kita ini memerlukan sistim transportasi yang baik, nyaman, terpadu dan terjangkau. Dan MRT adalah salah satu solusinya. Tidak ada jaminan memang jika dengan MRT ini, macet akan hilang dengan sendirinya, semuanya memerlukan proses yang panjang. Namun saya yakin, jika MRT ini dioperasionalkan, jumlah penumpang yang terangkut akan bertambah dan dikarenakan adanya alternatif yang tersedia, diharapkan busway akan menjadi satu-satunya angkutan umum dalam bentuk bus, yang beroperasi di jantung kota. Jika ini berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin para pengguna mobil pribadi akan mempertimbangkan penggunaan kendaraan umum. Jika ini yang terjadi, maka jumlah kendaraan pribadi yang melaju di jalan-jalan Jakarta (diharapkan) akan berkurang.

Kita beralih kepada masalah Jakarta lainnya yaitu banjir. Saya yakin permasalahan ini juga termasuk dalam daftar misi para cagub DKI ini. Konsep dan metode yang disampaikan juga sangat beragam dan menarik, termasuk di antaranya penambahan resapan air dan zona hijau. Zona hijau selain indah, juga dapat menetralisir polusi, selain itu diharapkan dengan adanya areal resapan air ini ditambah lagi dengan kelanjutan pembangunan kanal dapat mengurangi resiko banjir. Yang saya sayangkan program yang cukup baik ini tidak disertai aksi konkret lainnya, misalnya dengan melarang pembangunan mall baru (mewah) dan atau pembangunan real estat dalam kota yang diperuntukan bagi kalangan atas. Menurut hemat saya, hal ini juga penting karena Jakarta sudah dipadati oleh proyek-proyek mewah ini hingga ke kawasan pantai. Banyaknya pembangunan ini juga berdampak pada berkurangnya areal resapan air dan berkurangnya zona hijau. Jika hal ini tidak mungkin, maka saya berharap siapapun yang menjadi gubernur berani membuat peraturan untuk membuat peraturan yang jelas untuk pembangunan proyek mewah, di antaranya pembatasan proyek dalam satu tahun dan tentu saja lokasi yang dipilih tidak boleh berada di zona hijau, daerah resapan atau sungai. Dengan ketegasan seperti ini diharapkan Jakarta tidak hanya mengurangin banjir tetapi juga dapat mewujudkan Jakarta yang sejuk dan hijau.

Selain itu begitu banyak penduduk Jakarta yang belum mampu memiliki rumah sendiri. Dan jika pembangunan rumah atau rumah susun murah juga menjadi program, maka lahan yang diperlukan juga tidak sedikit. Penulis juga mengharapkan yang dimaksud murah bukanlah perumahan seadanya alias semuanya serba terbatas. Saya mengharapkan yang dimaksud murah adalah harganya yang terjangkau dengan fasilitas hunian yang laik, dan dengan kualitas bangunan yang baik. Saya perlu menggarisbawahi kata kualitas bangunan yang baik, karena sepenuhnya saya berharap proyek pembangunan rumah murah ini bersih dari korupsi dan dari mark-up. Jika ini dapat direalisasikan maka program untuk memberikan fasilitas laik bagi warga Jakarta akan tercapai.

Kesemrawutan lain yang dihadapi Jakarta adalah kesemrawutan. Begitu banyak kawasan di Jakarta yang semrawut, dari mulai penggunaan trotoar hingga menyempitnya areal pejalan kaki. Salah satu penyebab kesemrawutan ini adalah pedagang kaki lima. Karena ketiadaan tempat yang dapat menampung mereka, mereka akhirnya menggelar dagangan di mana saja, termasuk di tengah-tengah terminal dan badan jalan. Lihat saja kawasan Tanah Abang yang sehari-harinya semrawut dengan bercampur aduknya tidak cuma pedagang kaki lima, tetapi juga hilir mudik laju kendaraan dan hilir mudik pejalan kaki yang sulit menemukan trotoar yang nyaman dan steril. Dalam hal solusi untuk pedagang kaki lima, ada 2 pasang calon yang memikirkan permasalahan ini dengan cara yang berbeda. Perbedaan yang sangat kentara adalah 1 pasangan menjelaskannya secara tersurat sedangkan pasangan lainnya memikirkan ide untuk mengakomodasi persoalan kaki lima ini dengan sangat tersirat. Jumlah yang sangat sedikit yang memperdulikan masalah kesemrawutan ini. Padahal imbas yang dirasakan masyarakat sangatlah besar. Dan menurut polling salah satu stasiun TV swasta, kesemrawutan merupakan masalah kedua, setelah macet yang diinginkan warga Jakarta agar segera ditangani.

Pada paragraf sebelumnya saya menyebutkan banyaknya mall mewah di Jakarta dan saya mendapat kesan jumlahnya kian menjamur dari tahun ke tahun. Fenomena ini tidak saya sesali tetapi di saat bersamaan membuat saya berpikir. Bukankah Jakarta seperti kota lainnya memiliki pasar tradisional. Disadari atau tidak pasar tradisional ini memainkan peran yang cukup penting dalam kehidupan warga Jakarta, baik secara ekonomi maupun secara sosial. Menjamurnya mall membuat saya khawatir pasar tradisional perlahan-lahan akan menghilang. Oleh karena itu saya mengharapkan para cagub dan cawagub ini memikirkan masa depan pasar tradisional dengan melakukan revitaliasi pasar tradisional yang ada, hingga menjadi pasar yang tertib, bebas semrawut, aman dan nyaman. Revitalisasi ini penting untuk meningkatkan daya saing dengan mall dan juga memberikan kontribusi bagi denyut perekonomian Jakarta. Jika anggaran memungkinkan, saya akan bahagia sekali, jika pembangunan pasar tradisional baru dipertimbangkan.

Hal terakhir yang mungkin jarang disinggung tetapi ada di benak warga Jakarta adalah, harapan untuk menjadikan Jakarta tujuan wisata. Bagaimanapun Jakarta merupakan salah satu gerbang masuk ke negara tercinta. Ibukota kita memiliki begitu banyak tempat menarik yang laik dikunjungi. Jika saja tempat-tempat ini dipromosikan dengan baik dibarengi, bukan tidak mungkin Jakarta akan berubah menjadi kota yang diminati turis, dan bukan lagi menjadi kota yang dibenci turis seperti yang diberitakan CNN. Dan jika Jakarta dapat menjadi tujuan wisata, devisa yang diperoleh dapat dijadikan tambahan pendapatan propinsi. Walaupun bukan prioritas utama, semoga saja para cagub dan cawagub ini tidak akan mengabaikan aspirasi ini.

Akhir kata, saya berharap, pilkada ini dapat berjalan dengan jujur, adil, terbuka, tertib dan aman. Semoga juga pilihan warga Jakarta nanti akan mengemban amanah dan menjadikan Jakarta lebih baik, dengan tidak melupakan janji-janji mereka selama kampanye.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?



Leave a Comment