Di Balik Sukses Pariwisata Bali
Twitter : @SenyumDunia
Untuk kesekian kalinya saya berkunjung lagi ke pulau Dewata. Seperti biasa, saya disambut dengan keramahan dan keindahan. Tidak ketinggalan, kali ini saya juga disuguhi pemandangan yang tidak biasa, yaitu proyek pembangunan bandara baru, dan proyek pembangunan jalan tol. Saya mengatakannya tidak biasa, karena selain hal ini tentu saja membawa perubahan yang positif, proyek yang sedang berjalan ini juga dirasakan para pengguna jalan dalam bentuk kemacetan, suatu hal yang agak jarang saya temui.
Di sisi lain saya juga melihat, semakin ramainya lalu lalang pendatang di kota ini. Yang saya maksud tentu saja bukan hanya wisatawan tetapi juga jumlah orang yang datang ke Bali untuk menjadi penduduk tetap baik dari luar maupun dalam negeri.
Hal ini tentu saja, disebabkan antara lain suksesnya Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia yang terkenal di seluruh dunia. Sukses pariwisata ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. Baik bagi para pencari kerja maupun para pebisnis yang melihat peluang besar untuk meraih keuntungan. Suka tidak suka, sektor wisata ini menyerap begitu banyak lapangan kerja, apalagi dengan menjamurnya hotel berbintang hingga villa dari taraf sederhana hingga villa mewah dengan pelayanan ekslusif.
Bahkan setelah diluluhlantakkan peristiwa Bom I dan II, Bali mampu bangkit kembali dan membuktikan diri, bahwa pulau ini layak dikunjungi. Hasilnya, pariwisata di pulau ini bangkit, bahkan tidak tanggung-tanggung, film Eat, Pray, Love yang salah satu lokasinya di Bali, tepatnya di Ubud, turut mempopulerkan Bali di mata dunia.
Di sisi lain, saya terkadang mendapatkan kesan kalau Bali adalah korban kesuksesannya sendiri. Jika saya perhatikan dari kunjungan ke kunjungan, saya masih melihat dominasi wisatawan asing di pulau ini. Bahkan di beberapa tempat, saya sama sekali tidak melihat wisatawan lokal. Tentu saja, baik lokal maupun mancanegara, selama kunjungan ini memberikan dampak positif kenapa tidak, tetapi saya berpikir bagaimana masyarakat Bali menyikapi dan melihat dampak dari kesuksesan ini. Contohnya saja, ketika saya berkunjung ke Ubud, begitu banyak sawah yang sekarang menjadi villa. Sementara itu tidak sedikit masyarakat Bali yang mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Bagaimana pula dengan ruang gerak yang kian menyempit. Apalagi dengan begitu banyaknya lahan yang dimiliki orang asing dan bukan warga Bali sendiri. Saya tidak meragukan keteguhan masyarakat Bali atas budaya dan tradisi mereka, sebaliknya melalui pariwisata, mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan keragaman dan keindahan tradisi mereka kepada dunia luar. Saya pun tidak mengkhawatirkan adanya infiltrasi budaya. Saya lebih mengkhawatirkan ruang gerak yang menyempit itu tadi, karena, walau bagaimanapun masyarakat setempat memerlukan ruang gerak sendiri tanpa merasa tergeser apalagi tergusur.
Sebagai negara yang besar dan kaya akan budaya, sudah saatnya Indonesia, memperkenalkan tujuan wisata lain selain Bali. Selain sebagai usaha untuk menjaring lebih banyak devisa negara dan meningkatkan pendapatan daerah lainnya, usaha ini diperlukan sebagai upaya memeratakan kunjungan wisatawan ke Indonesia sekaligus sebagai upaya untuk memaksimalkan potensi wisata di daerah lainnya di Indonesia. Tentu saja usaha ini juga harus dibarengi strategi yang baik agar terjadi keselarasan antara pengembangan wisata, tanpa mengesampingkan ruang gerak masyarakat setempat.
Usulan di atas secara keseluruhan memang tidak akan mengembalikan ruang gerak yang menyempit, tetapi setidaknya akan mengurangi beban sukses yang saat ini ditanggung Bali. Selain itu pengembangan potensi pariwisata di daerah/propinsi lain, tidak akan mengurangi popularitas Bali sebagai tujuan wisata andalan.
Strategi ini memang tidak mudah dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Namun, dalam banyak hal, negara kita bukanlah pemain baru dalam dunia kepariwisataan. Setidaknya ada 3 barometer utama yang dapat dijadikan referensi sukses. Selain Bali, Manado dan Yogyakarta merupakan tujuan lainnya yang diminati wisatawan. Dengan kata lain, jika usaha ini dikerjakan dengan komitmen yang baik, suatu hari nanti, Indonesia sebagai suatu kesatuan akan menjadi ikon wisata dunia dan mampu mensejajarkan diri dengan ikon wisata dunia lainnya.
September 19, 2012 @ 12:39
Sekali ke Bali pasti pengen balik lagi…:D
September 19, 2012 @ 12:41
waktu ke bali beberapa bulan lalu, saya menemukan sesuatu hal yg berbeda ttg bali. Beda banget rasanya ketika musim liburan atau tahun baruan. Semoga tanah di bali tidak berpindah tangan ke orang asing.
salam
Omjay
September 19, 2012 @ 13:13
Betul-betul bro
September 19, 2012 @ 17:57
???? ? ?? ???????????.
September 19, 2012 @ 19:06
? ?????????, ??? ??????? ?? ? ????, ? ??? ????? RSS? ? ?? ?? ???? ????????????
September 19, 2012 @ 20:05
??? ????????? ? ????????????? ? ??????? ? ? ????????????? ????? ?????? ? ???????? ???? ????
September 19, 2012 @ 22:35
nice post ..
September 20, 2012 @ 10:14
baru sekali ke Bali, tempat numpang ane Jogja jadi barometer juga ya
September 20, 2012 @ 11:38
amin,,senang sekali baca ini,,kalau saja bisa dikerjakan dengan komitmen yang baik mka indonesia akan menjadi negara pariwisata,,,,hebat
September 20, 2012 @ 20:02
??????? ?? ???? ??????? ???????????
September 20, 2012 @ 20:04
??? ?? ?????? ? ?????
September 20, 2012 @ 20:07
Betul:) Sebagai orang Indonesia, kita wajib bangga memiliki tujuan seperti Bali, dan juga tujuan wisata lainnya yang tidak kalah menariknya.
September 20, 2012 @ 20:09
Perbedaan yang saya lihat memang cukup signifikan. Seperti Anda, saya juga berharap, penyebaran “invasi” asing ini dapat dibatasi, agar terjadi keselarasan dan keseimbangan.
September 20, 2012 @ 20:09
Trims:)
September 20, 2012 @ 20:10
Trims buat komennya juga:)
September 20, 2012 @ 20:12
Pastilah itu. Yogyakarta juga menyimpan begitu banyak keanekaragaman budaya, yang pastinya menjadi daya tarik tersendiri.
September 20, 2012 @ 20:13
Amin, kita do’akan bersama-sama dan trims:)
Desember 1, 2012 @ 11:03
Saya turut bangga melihat bahwa kini Bali menjadi sorotan dunia. Sebagai orang Bali asli, saya berharap bahwa kemajuan ini membawa kebaikan dan bukan sebaliknya. Bali indah di luar dan di dalamnya. Jika saja para wisatawan bisa meresapi keberadaannya tidak hanya di luarnya saja, tidak hanya pada keramaian dan kemewahannya. Ada banyak tradisi menakjubkan yang Bali miliki. Inner beauty nya tidak hanya sebatas yang terlihat. Terimakasih untuk tulisan ini. Saya sungguh berharap masyarakat Indonesia keseluruhan, mampu mencintai Bali seperti saya mencintai Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Menjaga Bali segenap hati. Semoga Bali tetap seperti pulau dewata yang kami cintai sedari dahulu kala, bahkan dengan adanya wisatawan dunia.
Desember 2, 2012 @ 17:27
Terima kasih telah singgah di blog saya dan atas komentarnya. Komentar ini sangat sejuk dan mengingatkan kita akan keindahan Bali tidak hanya alamnya, tetapi juga seni budayanya. Seperti anda, sayapun sebagai orang Indonesia yang mecintai negara kita dari sabang sampai Merauke, berharap agar Bali senantiasa menjadi inspirasi bagi Indonesia dan dunia.